News

Uniknya Cita-cita Moza Yatus Sofia Rahmah

Namanya Moza Yatus Sofia Rahmah, teman-temannya biasa memanggil Moza. Moza adalah siswa di Kelas IV MI Raudathul Muta’alimin Depok, ia adalah siswa yang aktif dan mudah bergaul dengan teman-teman di kelasnya. Ketika kegiatan GAB berlangsung di kelasnya yang diikuti oleh 15 orang siswa, semua anak Kelas IV menggambarkan cita-cita mereka termasuk Moza.  Namun ada yang menarik dari kegiatan GAB kali ini, ketika sebagian besar siswa kelas IV menggambarkan seorang Dokter dengan rumah sakitnya, Guru dengan papan tulisnya, Pemain Sepak Bola dengan lapangannya. Moza menggambar seorang perempuan yang menggunakan hijab berwarna merah. Ketika ditanya “Siapa yang Moza gambar?” “Artis, tapi artisnya memakai hijab” jawab Moza dengan malu-malu. Ini menjadi hal yang menarik, ketika sebagian besar teman-temannya memiliki cita-cita yang sama, Moza memliki cita-cita yang berbeda dari teman-temannya dan ia tetap memilih mengekspresikan cita-cita yang ia miliki.

Moza memang anak yang ekspresif, ketika Bu Rona (Wali Kelas IV) meminta anak-anak untuk menceritakan cita-cita mereka, Moza menjadi siswa pertama yang maju ke depan kelas untuk berbagi tentang cita-citanya. Moza menceritakan tentang keinginannya ketika besar nanti ia ingin menjadi seorang artis. Ia terinspirasi dari audisi pencarian bakat menyanyi di salah satu stasiun televisi, oleh karena itu ia ingin menjadi seorang juri untuk audisi pencarian bakat menyanyi di stasiun televisi. Menariknya, ia juga menyampaikan artisnya harus mengenakan hijab supaya menutup aurat. Karena Moza sudah terbiasa mengenakan seragam sekolah yang menutup aurat semenjak bersekolah di Madrasah.

Lebih lanjut, Moza meceritakan kenapa ingin menjadi seorang juri penyanyi adalah supaya bisa mengajarkan orang Indonesia untuk bisa menyanyi. Keinginan Moza ini mungkin saja membuat kita sebagai orang dewasa berpikir mengajarkan orang bernyanyi adalah sesuatu yang tidak perlu untuk dilakukan bisa saja dengan profesi sebagai juri pencarian bakat menyanyi kita gunakan untuk mencari pendapatan. Di sinilah letak perbedaannya, cita-cita seorang anak kecil orientasinya bukan pada materil tetapi mereka berpikir pada cita-cita mereka akan terlihat hebat ketika mampu membantu orang tuanya, menolong orang lain, bermanfaat bagi sekitarnya atau bahkan menjadi pahlawan untuk lingkungannya.

Yang jelas, apa pun cita-cita anak-anak kita, mereka harus tetap mendapatkan pengakuan dan dukungan dari kita sebagai orang tua dan orang dewasa. Berilah anak-anak kita apresiasi dengan tidak menyalahkan atau membenarkan cita-cita mereka. Anak-anak sudah berani bercita-cita saja adalah bentuk kemajuan anak dalam berpikir. Mari kita dukung Moza dan anak-anak lainnya untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka.

Semangat dik Moza, semoga cita-citamu tercapai… Aamiin…

Leave a comment