News

Tips dan Tricks Menulis

[oleh: Asep Sapaat, GM Dompet Dhuafa Pendidikan]

Apa yang Bapak Ibu guru pikirkan tentang menulis? Apakah menulis semacam keterampilan penting dalam hidup Bapak Ibu guru? Mengapa Bapak Ibu guru merasa harus mampu menulis?

Menulis adalah ekspresi pikiran dan perasaan yang diungkapkan lewat tulisan. Kuatnya fondasi keterampilan menulis sangat bergantung pada tujuan kita sendiri dalam menulis. Untuk apa kita menulis? Jika tujuan utama untuk berkomunikasi dan memublikasikan sesuatu, berarti yang harus kita sadari bahwa kita menulis untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Karena itu, agar tulisan itu menarik dibaca orang lain, berarti kita harus menulis sebagai seorang penulis, yaitu seseorang yang terampil menggunakan kata-kata secara tertulis.

Intinya, menulis adalah sebuah keterampilan hidup. Semua orang selayaknya dilatih keterampilan menulis karena tak ada satu pun bidang di dunia ini yang dapat lepas dari tulis-menulis. Ada survei penilaian mandiri yang dilakukan Communispond menyajikan data menarik dalam konteks bisnis terkait para eksekutif dalam hal tulis-menulis: 53% eksekutif menyatakan bahwa keterampilan menulis mereka pas-pasan atau buruk, dan 44% menyatakan masih perlu meningkatkan kejelasan dan kemampuan mengorganisasi karangan. Hal yang sangat mengejutkan, hanya 25% yang menyatakan menikmati menulis, dan 72% menempatkan menulis dalam ‘daftar kebencian’ paling teratas-bersamaan dengan berbicara dan menghadiri rapat bisnis.

Ada 4 sifat tulisan yang harus kita ketahui di antaranya:

  1. Sifat tulisan pribadi tertutup, yakni tulisan bersifat sangat pribadi dan cenderung dirahasiakan agar tak dibaca ataupun terbaca oleh orang lain. Tulisan ini biasanya bersifat diari, surat-surat pribadi, ataupun catatan-catatan rahasia.
  2. Sifat tulisan pribadi terbuka, yakni tulisan bersifat pribadi ataupun sangat pribadi, tetapi dibiarkan ataupun disengaja untuk dibaca oleh orang lain. Tulisan-tulisan di blog, situs, ataupun medi sosial cenderung banyak bersifat pribadi, subjektif, dan kadang dibuat sesuka hati.
  3. Sifat tulisan publik terbatas, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi dalam lingkul terbatas, misalnya lingkup komunitas, ataupun lingkup sesama teman yang saling kenal.
  4. Sifat tulisan publik terbuka, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak secara terbuka dan luas meskipun menyasar pada segmen pembaca tertentu. Tulisan ini bebas dibaca siapa pun yang berminat.

Selain tahapan menulis di atas ada 5 tahapan proses menulis yang harus kita ketahui yaitu menggagas, menyusun draft tulisan, merevisi, menyunting, menerbitkan.

  1. Pada fase menggagas, kita dapat melakukan aktivitas menstimulus ide penulisan, menguji ide penulisan, menentukan pembaca sasaran, mengumpulkan bahan referensi, mengembangkan ide menjadi kerangka tulisan.
  2. Pada fase menyusun draft tulisan, penulis dapat melakukan langkah-langkah: menulis bebas tanpa terkendala hal-hal lain, memasukkan bahan yang relevan dengan pengalaman diri-pengalaman orang lain-ilmu atau keterampilan yang dimiliki, memasukkan data dan fakta pendukung, mengembangkan gaya penulisan sesuai pembaca sasaran.
  3. Pada fase merevisi, kita dapat membaca ulang naskah tulisan secara keseluruhan sambil menandai bagian-bagian yang mungkin kurang jelas atau tak tepat, menimbang bahan-bahan tulisan yang harus dibuang karena kurang relevan, dan menimbang bahan-bahan lain yang dapat memperkaya tulisan.
  4. Pada fase menyunting, adalah suatu kegiatan pemeriksaan kembali suatu tulisan atau naskah sebelum tulisan tersebut dipublikasikan. Menyunting adalah kegiatan menyiapkan naskah, teks, atau karangan siap cetak atau siap terbit dengan memerhatikan sistematika penyajian, isi, dan bahasa
  5. Fase terakhir, menerbitkan tulisan. Pada fase ini, penulis dapat menentukan publikasi tulisan pada media yang tepat serta pembaca sasaran yang tepat pula.

Selamat menulis dan semoga bermanfaat. Terimakasih

Leave a comment