News

PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM MENDAMPINGI CITA-CITA PESERTA DIDIK

Bersama: Guru Galih Nur Ardiyansyah

Mewujudkan cita-cita bukanlah suatu perbuatan instan, karenanya membutuhkan proses yang panjang untuk mencapai hasilnya. Dalam mewujudkan cita-cita ini, tentu kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak disekeliling kita termasuk orangtua dan guru. Di Kelas Bercerita Cita-cita #6, GAB berbincang bersama Guru Galih Nur Ardiyansyah merupakan guru BK Sekolah SMART Ekselensia Dompet Dhuafa terkait terkait cita-cita dan peranan guru BK.

Menurut Guru Ian, jika mengacu pada pengertian di kamus, cita-cita merupakan suatu keinginan yang selalu dalam pikiran kita atau keinginan yang bersungguh-sungguh untuk kita mencapainya. Sebetulnya, cita-cita ini sangat penting. Ibarat suatu lembaga atau organisasi, cita-cita adalah tujuan atau visinya. Mau menjadi orang seperti apa diri kita, biasanya tercermin dari cara kita mengonsep cita-cita. Katakanlah organisasi atau kita tidak memiliki cita-cita, maka kita seperti tidak memiliki arah dan tujuan. Tetapi jika kita memiliki cita-cita, kita dapat membentuk perilaku dan aktivitas yang sejalan dengan cita-cita. Itulah yang kemudian menjadi dasar pentingnya memiliki cita-cita.

Faktanya kondisi jaman sekarang, anak-anak masih bingung dan tidak tahu mau menjadi apa di masa depan. Konsep cita-cita tidak dipahami betul oleh anak yang memiliki ekonomi menengah ke bawah sehingga membutuhkan usaha lebih untuk memahamkan lebih awal. Jika sampai tahap SMA anak baru mengenal konsep cita-cita, bisa dikatakan itu sudah terlambat karena idealnya cita-cita dikenalkan saat balita umur 4-5 tahun. Pada awal pengenalan cita-cita di sini dapat melalui pengenalan berbagai profesi.

Cita-cita kita analogikan suatu tujuan yang harus dicapai oleh seseorang. Anak yang memiliki perencanaan yang baik sudah pasti mengantisipasi lebih awal untuk mewujudkan cita-citanya. Ia tahu proses itu tidak mudah, maka anak anak belajar lebih ekstra sehingga akan berpengaruh pada pencapaian prestasinya. “Tantangan kita sebagai guru adalah bagaimana kita dan orangtua di rumah membimbingnya, karena anak-anak mellennial melihat segala sesuatu dengan ideal self-nya. Mereka memiliki norma sendiri dan standar tinggi tetapi tidak sejalan dengan kemampuan yang dimiliki. Ini yang dikhawatirkan jika gagal di tengah-tengah akan terjadi frustasi yang berujung pada depsresi, pentingnya pendampingan itu di situ” ujar Guru Ian.

Lebih lanjut Guru Ian menyampaikan bahwa, ada dua dampak positif cita-cita bagi peserta didik. Pertama adalah terletak pada motivasi mencapai prestasi pasti akan ada kenaikan. Kenaikan pencapaian prestasi ini setiap orang berbeda sesuai dengan effort atau usahanya. Peserta didik yang memiliki cita-cita konkrit ia akan memiliki motivasi untuk berprestasi yang jauh dan terarah dari peserta didik yang memiliki cita-cita tidak konkrit. Cita-cita konkrit dan tidak konkrit ini harus dikenalkan sejak dini kepada anak untuk menentukan jalan, standar, dan mengevaluasi pencapaian anak.

Kedua, anak memiliki pemikiran atau kemampuan perencanaan yang baik. Dalam dunia kerja sekarang ini, perusahaan mencari pekerja yang memiliki soft skill yang baik tidak hanya hard skill. Salah satu soft skill tersebut adalah kemampuan perencanaan. Kemampuan perencanaan ini bisa dilatih dari cara peserta didik mengonsep cita-cita, membuat action plan dan evaluasi kerjanya. Dalam bercita-cita peserta didik juga belajar mengatur dan mengelola emosi ketika usahanya tidak membuahkan hasil maksimal. Tentunya banyak hal postif lainya yang didapatkan peserta didik ketika mengonsep cita-citanya.

Sebagai seorang guru, sebelum memahami apa cita-cita peserta didiknya, guru harus membangun kelekatan dengan peserta didik terlebih dahulu. Dekati anaknya buat rasa aman, nyaman, karena salah satu kebutuhan dasar anak adalah rasa aman. Jika peserta didik sudah merasa aman dan nyaman maka peserta didik akan lebih terbuka. Setelah itu guru dapat membangun komunikasi dengan peserta didik tentang perencanaan masa depanya. Karena ketika kelekatan sudah terbangun guru akan lebih mudah memberikan pendampingan.

Selanjutanya yang dilakukan guru adalah melakukan observasi mulai dari passion, potensi, minat, bakat, akademik, dan non akademin peserta didik. Ketika sudah mendapat data observasi, guru dapat memulai untuk mengarahkan. Bukan untuk menghakimi tetapi untuk mengajak peserta didik berdiskusi tentang cita-cita yang ia pilih agar sesuai dengan potensi yang dimiliki, karena anak akan merasa lebih dihargai ketika diajak berdiskusi.

Observasi ini dapat dilakukan semua guru kepada peserta didiknya, yang sangat berpeluang waktu lebih banyak adalah guru mata pelajaran. Guru BK adalah sebagai jembatan antara data yang sudah didapatkan dengan kondisi peserta didik. Komunikasi yang baik antara guru BK dan guru kelas sangat diperlukan dalam proses ini. Guru mata pelajaran menyampaiakn mekanisme hasil observasi di kelas sedangkan guru BK memegang tes kapasitas intelligence peserta didik sehingga memudahkan daya tangkap belajar peserta didik.

Ada banya hal yang dapat  menunjang cita-cita peserta didik selama di sekolah. Bisa melalui program assessment terkait minat dan bakat yang dilakukan supervise dari psikolog. Setelah itu, guru BK mengadakan konseling individu untuk kebutuhan dan kenyamanan privasi peserta didik. Guru BK juga harus bisa membuka obrolan menarik dengan peserta didiknya dan menanyakan tentang perkembangan cita-citanya.

Bisa juga dengan peserta didik diarahkan mempunyai buku diary sebagai rencana bercita-cita, perkembangan diri, dan perkembangan belajar. Metode lainya, dengan melakukan agenda positif seperti pemutara film yang menggambarkan atau memberikan pesan tentang perjuangan mewujudkan cita-cita. Setelah menonton bersama lakukan FGD sebagai ruang peserta didik berpendapat tentang film yang ditayangkan atau dapat dituliskan dalam buku diarynya.

Yang biasa guru temui dilapangan adalah antara standar idela dan kondisi realita, banyak ditemukan secara bakat dan potensi anak menyimpang dengan cita-citanya. Di sinilah kehadiran guru khususnya guru BK diperlukan yaitu mendampingi dan mengarahkan peserta didiknya. Dalam kesempatanya, Guru Ian membagikan tips untuk guru BK dalam mendampingi peserta didik yaitu:

  1. Berusaha sebagai seorang guru untuk memberi penilaian yang postif kepada semua peserta didik dan bersifat netral.
  2. Menghindari labeling tidak baik kepada peserta didik.
  3. Menyediakan waktu lebih banyak dari guru mata pelajaran karena guru BK berkaitan dengan layanan yang bersifat individual.
  4. Ketika menemukan ketidaksinkronan antara potensi anak dan cita-citanya, berilah peserta didik tantangan untuk membuktikan keinginanya.

Hal ini sangat penting diketahui oleh guru, khususnya guru BK yang memiliki peranan penting dalam penyediaan pelayanan konseling bagi anak selama di lingkup sekolah. Oleh karena itu, program Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) di jenjang pendidikan sekolah menengah mengoptimalkan peran guru BK dan OSIS di sekolah.

Leave a comment