News

Penggunaan Bahasa Positif untuk Mendorong Motivasi Cita-cita Peserta Didik

Bersama: Alimin, S.Pd. (Rekan GAB)

Bahasa merupakan hal-hal yang kita pakai dan kita gunakan setiap hari. Selain itu, bahasa merupakan sarana pendidikan dan komunikasi yang sangat penting untuk mengembangkan sikap, sifat, dan karakter pada setiap peserta didik. Pemilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan dapat memberikan efek psikologis kepada anak-anak dan peserta didik kita.

Sebagai seorang guru, orangtua, atau siapa pun kita pasti ingin mendengar perkataan yang nyaman dan kata-kata yang bermakna positif, begitu juga dengan anak didik kita. Mereka menginginkan mendengar ungkapan, kata-kata, dan pernyataan yang keluar dari mulut orangtua atau pun gurunya adalah perkataan yang baik. Apalagi jika dikaitkan dengan masa depan dan cita-citanya. Inilah mengapa bahasa positif sangat penting untuk digunakan dalam komunikasi.

Bahasa positif merupakan ungkapan verbal, pesan gambar, dan gestur tubuh yang akan memberikan kesan positif bagi siapa saja yang menerimanya. Bahasa positif tidak terbatas pada ungkapan lisan melainkan seluruh yang tampil dalam diri kita dapat menyampaikan pesan positif kepada orang lain.

Banyak anak-anak di luar sana yang sampai saat ini tidak tahu apa cita-citanya, bahkan pindah-pindah jurusan kuliah karena bingung dengan pilihanya. Hal ini terjadi karena pola asuh yang diletakan di rumah tidak memberikan model untuk dijadikan contoh. Anak-anak merasa tidak ada yang memandu, tidak ada afirmasi positif, tidak memiliki model, dan tidak memiliki sesuatu untuk mereka jadikan contoh arah hidupnya akan menjadi seperti apa. Itulah mengapa kemudian bahasa positif menjadi penting digunakan dalam berkomunikasi karena erat kaitanya dengan masa depan anak bangsa.

Anak adalah inidividu yang coping behavior. Jika orangtua di rumah, guru di sekolah bisa mendeliver bahasa positif kepada anak terutama di masa keemasan 0 – 6 tahun, akan memberikan dampak luar biasa bagi anak. Ketika anak terbiasa mendengar perkataan yang baik, tingkah pola kasih sayang yang baik, ibu kepada ayahnya, ayah kepada ibunya, orangtua kepadanya, guru kepadanya, maka anak akan mencontoh aktivitas yang orang lakukan di sekitarnya. Oleh karena itu, orangtua dan guru sangat perlu untuk mengungkapkan rasa sayang kepada anak dan peserta didiknya.

Anak-anak memiliki potensi gelombang otak yang dapat dimasukan kalimat-kalimat positif. Pertama adalah gelombang otak beta, yaitu saat posisi anak tersadar, kritis, analitis, dan penuh kewaspadaan. Gelombang otak alpha, yaitu kondisi anak sedang rileks dan mulai terbuka terhadap masukan dari luar. Biasanya, gelombang ini mucul saat anak senang, gembira, santai dan menjelang tidur. Kalimat positif sangat berperan di sana, itu adalah ruang yang tepat dimasukan kalimat positif untuk memotivasi masa depanya, penanaman karakter, target kebaikan untuk anak dll. Selanjutnya adalah gelombang otak teta, ruang anak dapat dimasukan dengan kata positif lebih dalam lagi dari kondisi gelombang otak alpha.

Perlakuan untuk memasukan kalimat positif setiap levelnya baerbeda. Level TK dapat dengan menggunakan imajinasi, alat peraga, dan saat bermain. Level SD dapat mengajak berpetualang di alam dan memberikan insight dari perjalanan tersebut. Point pentingnya adalah alam, petualangan, dan perjalanan. Sebenarnya, anak kelas 5 sekoah dasar sudah dapat bertemu dengan bakatnya jika ada yang memandu. Oleh karena itu, pembentukan masa depan anak adalah sebuah perjalanan yang panjang dan harus dimulai sejak dini. Penggunaan kalimat positif untuk anak level SMP bisa menggunakan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Intervensi cita-cita yang dapat dilakukan orangtua dan guru hanya sampai sampai kelas 3 SMP. Pada level ini, kadar kepatuhan anak masih ada sehingga orangtua harus banyak membangun bonding dengan anaknya karena itu ruang terakhir orangtua untuk mengintervensi anak.

Baik orangtua di rumah mau pun guru di sekolah harus mengambil peran penting masing-masing dalam menggunakan bahasa positif saat berkomunikasi dengan anak. Karena kandungan emosional anak akan mempengaruhi frekuensi kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a comment