News

KISAH 1000 CITA-CITA

Bersama: Lilis Risnawati

Cita-cita adalah impian atau harapan dalam hidup seseorang. Bagi sebagain orang, cita-cita menjadi motivasi dalam hidupnya sehingga segala perilaku dan aktivitas yang dilakukan demi mewujudkan cita-citanya di masa depan. Setiap orang pasti memiliki cita-cita, meski terkadang cita-cita tersebut cenderung berubah seiring bertambahnya usia. Tetapi itu bukanlah suatu masalah karena yang menjadi masalah sesungguhnya adalah ketika seseorang tidak memiliki cita-cita apa pun dalam hidupnya.

Seperti halnya Guru Lilis Risnawati, gadis kelahiran 1994 yang berprofesi sebagai Guru TK sekaligus Guru Privat yang juga mempunyai hobi di bidang konten kreator. Menurut Guru LIlis “Cita-cita adalah pandangan masa depan dan target. Ibarat mobil, kita mengendalikan mobil maka kita harus memiliki tujuan, jika kita tidak memiliki tujuan pasti kita akan kehilangan arah.”

Waktu kecil Guru Lilis bercita-cita menjadi suster, kemudian dokter, ia terinspirasi dari serial di stasiun televisi. Ketika beranjak SMP berubah lagi menjadi guru karena terinspirasi dari gurunya yang dapat menjadi teladan. Ketika SMA ganti menjadi arsitek dan ingin kuliah mengambil jurusan teknik. Ketika dewasa, ternyata salah satu cita-citanya terwujud yaitu menjadi seorang guru.

Berganti cita-cita adalah hal yang wajar dan bukan berarti kita tidak konsisten. Hal ini justru menunjukan bahwa seiring bertambahnya usia, kita terus menerima informasi baru hingga menimbulkan minat kita pada bidang yang sesuai menurut versi kita. Jadi tidak perlu khawatir untuk menekuni berbagai bidang sesuai minat kita.

Kita belajar dari pengalaman Guru Lilis, ketika muncul ketertarikan di bidang konten kreator. Minatnya ini kemudian membawa Guru Lilis pada kegiatan yang lebih menarik yaitu bergelut di bidang media sosial vidgram dan youtube bahkan saat ini tengah merintis usaha. Mempunyai dua sisi sekaligus, pertama menjadi sosok guru yang harus di guguh dan ditiru. Kedua menyalurkan hobi di bidang konten kreator merupakan pengalaman menyenangkan bagi Guru Lilis. Hobinya sebagai konten kreator juga memudahkan Guru Lilis dalam beraktivitas menjadi seorang guru di situasi pandemi seperti saat ini. Di mana guru dituntut untuk bisa membuat video pembelajaran yang menarik untuk Pembelajaran Jarak Jauh.

Menjadi konten kreator bukan salah satu cita-cita dalam hidup Guru Lilis karena saat itu aplikasi dan media sosial belum berkembang seperti saat ini. Muncul ketertarikan di bidang ini saat tahun 2018 awal. Berawal dari membuat vidgram dan ajakan seorang teman membuat video pembelajaran. Saat itu Guru Lilis melihat, menjadi konten kreator bisa menghibur banyak orang dengan konten-kontenya hingga menumbuhkan rasa keingintahuan pada diri Lilis. Pada akhir tahun 2018, Lilis mulai menggeluti secara intens dunia konten kreator. Beruntungnya, Guru Lilis juga memiliki ketertarikan di dunia foto sehingga bisa menunjang dalam pembuatan konten. “Awalnya tidak kepikiran untuk terjun di dunia vidgram dan hanya bermodalkan ketertarikan. Setelah ditekuni ternyata membuat ketagihan dan ada hal baru yang ditemui di sana. Hingga akhirnya bertemu dengan teman yang satu frekuensi dan membuat projek bareng” ujar Guru Lilis.

Kegiatan di luar mengajar, tidak lantas membuat Guru Lilis terganggu aktivitasnya sebagai guru. Ia menuturkan, selama kita bisa membagi waktu dengan baik, maka tidak akan saling mengganggu aktivitas. Ketika mengajar, fokus untuk mengajar, ketika membuat konten maka fokus membuat konten. Jadi tidak membagi pikiran saat mengerjakan suatu pekerjaan.

Tidak terlepas sebagai seorang guru, Guru Lilis juga menyampaikan pentingnya bercita-cita pada peserta didiknya. Karena ia mengajar TK, itu artinya harus memberikan gambaran dari portofolio berbagai profesi. Guru Lilis selalu menekankan peserta didiknya, apa pun cita-citanya harus dikejar dan dicapai. Pengalaman Guru Lilis saat menjadi guru TK, satu anak dalam kelas bisa memiliki dua sampai 3 tiga cita-cita. “Tugas kita sebagai guru tentu harus mendukung apa pun yang menjadi cita-cita mereka. Tidak perlu membenarkan atau menekankan bahwa anak hanya boleh memiliki satu cita-cita. Tapi biarkan anak menemukan cita-cita menurut versi terbaik mereka.” ujar Guru LIlis.

Kesuksesan Guru Lilis tidak terlepas dari dukungan orangtua dan keluarga. Saat usianya dua tahun, Guru Lilis ditinggal oleh ayahnya bersama ibu dan ketiga kakaknya. Dulu keadaan sangat tidak memungkinkan untuk mencapai cita-cita, tetapi karena perjuangan ibu dan ketiga kakaknya, Lilis dapat melanjutkan pendidikanya. “Jasa-jasa mereka yang membuat saya menjadi seperti ini, merasakan bangku sekolah dan melanjutkan pendidikan” ujar Guru Lilis. Tapi Lilis tidak berpuas diri dengan pencapaianya saat ini untuk terus berkembang. Bahkan sampai saat ini ia membuat list target yang akan dicapai di masa depan.

Keterbatasan bukanlah menjadi alasan untuk seseorang tidak sukses, selama ia memiliki cita-cita dalam hidupnya, cita-cita inilah yang akan menggerakan seluruh potensi yang ada pada dalam diri. Bercita-cita adalah jalan paling efektif untuk mengantarkan anak-anak Indonesia menuju kesuksesanya masing-masing. Oleh karena itu, guru sangat berperan dalam mendampingi cita-cita peserta didiknya. Karena gurulah yang tahu perkembangan potensi dan minat yang dimiliki peserta didiknya.

Inilah yang kemudia menjadi salah satu tujuan dari Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) yaitu Setiap Anak Indonesia Memiliki Cita-cita dengan mengajak guru-guru Indonesia untuk berpartisipasi aktif menerapkan GAB di sekolah.

Leave a comment