News

GAB latih guru dan wali murid MI Muta’alimin Depok

DEPOK-Selasa (19/11) Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia, begitulah sebait lirik lagu yang dinyanyikan oleh grup band Nidji. Lagu yang menjadi soundtrack filmnya Laskar Pelangi yang sempat menjadi film favorit se Indonesia. Di film tersebut dijelaskan kisah seorang anak yang tinggal di Belitung, dari keluarga yang sederhana dan mengenyam pendidikan di sekolah dengan fasilitas seadanya. Anak tersebut beruntung karena memiliki Ibu Guru yang mampu memotivasi anak-anak didiknya untuk memiliki mimpi. Memiliki impian berarti memiliki cita-cita.  Adanya cita-cita akan menjadi daya penggerak seseorang dalam hidup sehingga hidupnya akan bergairah. Begitu besarnya manfaat memiliki cita-cita, maka menanamkan cita-cita sejak dini menjadi penting. Namun sayangnya di luar sana, mungkin kita akan menemukan anak-anak yang belum berkesempatan untuk menemukan cita-citanya.

Oleh sebab itu,  Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) mengadakan pelatihan perdana GAB pada 19 November 2019,  bersama guru-guru dan wali murid MI Muta’alimin Depok.  Kegiatan ini bertujuan untuk membekali guru-guru cara jitu agar setiap anak memiliki, menggambar, dan menceritakan apa yang dicita-citakan.

Hadir sebagai pemateri pada sesi pertama training adalah Kak Ojan, penggiat dongeng anak-anak nasional. Dalam paparannya, Kak Ojan menekankan pada guru-guru dan wali murid tentang pentingnya seorang anak memiliki cita-cita sejak dini. “Anak yang memiliki cita-cita maka ia akan memiliki tujuan hidup dan berpotensi untuk meraih kesuksesan.” papar Kak Ojan.

Pada sesi kedua training hadir pula Guru Rina Fatimah yang memfokuskan pemaparan pada bagaimana implementasi Gerakan Ayo Bercita-cita di dalam kelas.

Sebelum sesia dua berakhir, Guru Rina mengatakan bahwa “Cita-cita yang dimiliki seorang anak tidak cukup hanya diucapkan melainkan mereka harus menggambarkannya sebagai visualisai dari cita-cita mereka sehingga membutuhkan banyak peran guru di dalam kelas untuk mengajak anak-anak menggambarkan cita-cita kemudian menceritakannya di depan kelas minimal selama 10menit setiap akhir pekan”.

Pada sesi ini peserta pelatihan diajak untuk menggambar cita-cita kemudian secara bergiliran menceritakannya di depan kelas. Awalnya peserta pelatihan  merasa canggung untuk menggambarkan cita-cita mereka, bahka beberapa di antara mereka terlihat kebingungan. Namun, seiring berjalannya pelatihan peserta  mulai mencoba menggambarkan cita-cita mereka diringi dengan gelagak tawa dan canda yang menambah keceriaan saat itu. Selesai menggambar peserta latihan diminta kesediaannya untuk berbagi tentang cita-citanya. Tidak hanya menceritakan peserta pelatihan juga dibimbing untuk mensimulasikan implementasi GAB di kelasnya melalui kegiatan bercerita dan memberikan apresiasi pada anak.

Setelah sesi ini berakhir, peserta pelatihan merasakan senang, gembira, merasa dihargai cita-citanya dan lebih semangat untuk mewujudkan cita-cita mereka.

Harapannya pelatihan GAB ini dapat menginspirasi peserta pelatihan untuk memotivasi anak-anak Indonesia untuk berani bercita-cita. Karena cita-cita tidak hanya untuk dimiliki, cita-cita juga perlu untuk divisualisasikan kemudian diceritakan kepada orang lain untuk menambah motivasi dan semangat anak-anak Indonesia dalam mewujudkan cita-cita mereka. Dukungan dan apresiasi dari guru serta kerabat dekat dibutuhkan anak-anak Indonesia untuk menggembam dunia.

Leave a comment