News

Dampingin Anak Menuju Kesuksesan

Usia remaja (13-18 tahun) adalah masa di mana anak mengalami gejolak emosi yang menggebu-gebu untuk menunjukkan keberadaannya dan mendapatkan pengakuan dari orang di sekitarnya. Pada usia ini baik secara psikologis mau pun kematangan fisik anak belum stabil. Hal ini yang mendorong anak pada usia remaja memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap hal-hal baru dan menantang. Selain itu mereka memiliki pola pikir sendiri terhadap keinginan dalam hidupnya, meski pun pola pikir itu belum terbentuk matang dan membutuhkan bimbingan dari orang terdekat khususnya orang tua.  Biasanya anak usia remaja mereka membordir dunia mereka di mana privasinya tidak ingin diganggu oleh orang yang tidak mempunyai kedekatan emosional dengannya. Rasa penasaran yang tinggi, berkembangnya organ seksualitas, ditambah denggan dorongan emosi yang belum stabil ini dapat mendorong anak di usia remaja rentan terjerumus hal-hal yang merusak namun mereka memaknainya sebagai kehidupan yang bebas. Jika ini dibiarkan maka anak akan jauh dari kesuksesannya dan terlempar menjadi anak yang bermasalah. Di sinilah peran kita baik sebagai orang tua mau pun guru sangat penting untuk  mengontrol perilaku anak pada usia remaja.

Perilaku anak remaja ini bisa terkontrol apabila anak memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya atau yang kita sebut dengan cita-cita. Karena cita-cita inilah yang akan membentengi anak untuk  terjerumus dari kenakalan remaja. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua dan guru untuk mengontrol dan mendampingi anak usia remaja dalam mewujudkan cita-citanya di antaranya:

  1. Bekali anak dengan 5 B (Bersyukur, Bercita-cita, Bekerja keras, Bekerja sama, dan Bertransformasi)
  2. Bersyukur, artinya anak kita tanamkan nilai-nilai spiritual dan rohani untuk menjadi pribadi yang baik dengan terus melakukan kebaikan-kebaikan kecil dalam hidupnya. Karena kebaikan inilah yang nantinya akan membawa kita pada petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa tentang kehidupan ini.
  3. Bercita-cita, petunjuk dari dampak bersyukur bisa mengarahkan anak untuk memiliki cita-cita dan mendekatkan pada informasi-informasi dalam rangka mewudujkan cita-citanya.
  4. Bekerja keras, ajari anak untuk terbiasa bekerja keras dalam mendapatkan keinginannya. Karena bekerja keras adalah wujud dari seberapa besar usaha kita.
  5. Bekerja sama, selain memiliki usaha yang tinggi anak juga harus mempunyai jiwa sosial yang baik di lingkungannya. Bekali anak kita dengan, team work, nilai-nilai sosial dan cara berkomunikasi dalam kelompok. Karena untuk mewujudkan cita-cita membutuhkan sinergi dari pihak eksternal.
  6. Bertransformasi, artinya berpindah ke tempat yang lebih mendukung untuk anak mewujudkan cita-citanya. Biarkan anak menjadi seorang perantau, ibarat budaya orang Minang ketika anak laki-laki telah dewasa mereka hanya memiliki dua pilihan Surau atau Rantau. Artinya, mereka tidak lagi memiliki kamar di dalam rumahnya mereka mempunyai pilihan merantau atau tidur di surau (masjid). Bahkan Rasulullah pun menganjurkan untuk berhijrah (berpindah) ke tempat yang akan membuat kita lebih baik seperti ketika Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah.
  7. Kenali anak dengan karakternya

Sebagai orang tua mau pun guru kita harus menjadi orang  yang mempunyai kedekatan emosional dengan anak. Langkah yang bisa kita lakukan adalah dengan mendampingi anak-anak kita dalam mengenali karakter dan jati dirinya, potensi apa yang dia miliki, arahkan anak untuk mencapainya.

  • Kelompok diskusi cita-cita

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa dalam mewujudkan cita-cita anak akan selalu membutuhkan dukungan dari pihak luar, dengan kata lain baik lingkungan mau pun orang-orang yang terlibat dalam mewujudkan cita-cita anak sangat dibutuhkan. Maka jadilah orang tua mau pun guru yang bisa diajak berdiskusi oleh anak.

Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua dan guru sebagai agen pengontrol perilaku anak dan tips di atas adalah salah satunya. Yang terpenting adalah kehadiran orang tua dan guru dalam setiap perkembangan anak itu sendiri. Mari kita dukung apa pun potensi anak kita, bekali mereka dengan ilmu yang cukup dan biarkan mereka berhasil dengan bepijak pada kaki mereka sendiri, karena tugas kita hanya mendampingi anak menjadi apa yang mereka inginkan bukan merubah anak sesuai keinginan kita.

Leave a comment