News

Cita-cita Besar Akan Terwujud di Waktu yang Paling Sempurna

Tujuan terbesar dalam perjalanan hidup manusia adalah yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan tanpa mengabaikan unsur religius. Karena dalam ilmu Neurosains yang mempelajari tentang syaraf manusia telah membuktikan bahwa manusia tidak akan bisa lepas dari pengharapan pada sesuatu yang manusia yakini memilki kekuatan lebih besar darinya, ini disebut dengan Tuhan. Dalam ilmu Neurosains hubungan manusia dengan Tuhannya terjalin melaui perantara otak manusia. Bahkan manusia ateis pun akan mengingat Tuhan ketika dia sedang berada di ambang batas ketakuan. Sebagai seorang muslim kita memiliki keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan kesempurnaan yang ingin dicapai sebagai seorang muslim adalah bisa bertemu dengan Allah di syurgaNya nanti.

Setiap manusia itu unik, akan berbeda satu dengan yang lainnya bahkan anak kembar sekali pun mereka akan memiliki perilaku yang berbeda. Namun perbedaan potensi pada manusia ini, Allah tetap memberikan kesetaraan yaitu otak dan hak atas waktu yang sama. Anggap saja kecerdasan dan waktu adalah bekal bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup mereka. Barang siapa yang perbekalannya mencukupi bahkan mendukung untuk dia berkembang maka kesuksesan mudah saja untuk diraihnya.

Bukan hidup jika tidak ada ujiannya. Manusia akan senantiasa digulingkan dari jalur kesuksesan, hilang arah, bahkan mungkin dia akan dipercundangi dunia dengan parah. Namun dapat saya katakan, ini tidak akan terjadi pada mereka yang memiliki tujuan hidup. Mereka mengerti apa yang harus dipersiapkan, jalan mana yang harus ditempuh, dan jika mereka harus terjatuh setidaknya mereka tahu bagaimana caranya bangkit kembali dan meneruskan langkah perjuangannya.

Tujuan hidup inilah yang saya maknai sebagai  cita-cita. Setiap orang yang memiliki cita-cita mereka akan terbentengi dari hal-hal yang dapat menjauhkan dirinya dari cita-citanya. Kita coba meniliki ke belakang, ingatkah pertama kali mengenal tentang cita-cita? Ya. Kita memang tidak asing dengan kata ini, bahkan sebelum memasuki usia sekolah dasar tidak jarang anak-anak ditanyai tentang cita-cita mereka. Beberapa di antara mereka akan menyebutkan ingin menjadi seorang dokter, pilot, polisi, tentara, guru dan itu adalah profesi yang sangat terkenal di kalangan anak-anak termasuk saya yang salah satunya menyebutkan cita-cita di masa kecil ingin menjadi seorang guru. Ada juga beberapa di antara anak-anak yang ketika ditanya tentang cita-cita mereka berpikir dahulu karena mereka masih bingung dan belum mengenal cita-cita mereka sendiri.

Sadar atau tidak, anak-anak di sekeliling kita hanya mengulang dan menyebutkan profesi yang sama dari generasi ke generasi. Meski ada beberapa anak yang sudah terpapar dunia gadget, internet, gawai dsb mereka akan menyebutkan beberapa profesi baru sebagai cita-citanya. Ada yang menginginkan jadi youtuber, rapper, k-pop dan beberapa profesi milenial lainnya. Namun apa pun cita-cita mereka, tidak ada koreksi dalam bercita-cita. Tugas kita sebagai orang dewasa, orang tua, dan guru adalah untuk mendampingi anak-anak kita dalam bercita-cita.

Bayangkan jika anak-anak Indonesia semuanya memiliki cita-cita. Tentu mereka anak memberi warna baru pada Indonesia sebagai para pelaku sejarah. Keluhuran bangsa Indonesia akan tercermin dari tingginya cita-cita anak negeri. Arahkan mereka untuk mengenali cita-cita mereka. Karena anak-anak kita adalah peniru ulung, mereka mengimitasi apa saja termasuk orang yang menjadi idola bagi mereka. Maka, jadilah rolemodel yang baik bagi mereka dengan memiliki cita-cita terlebih dahulu sebelum kita mengajarkan cita-cita pada anak.

Lalu jika ditanya apa cita-citamu saat ini, Rekan? Apakah tetap sama dengan cita-cita di masa kecil? Tenang, berubahnya cita-cita dari masa ke masa adalah hal yang wajar. Banyak orang yang juga mengalami hal seperti ini termasuk saya. Itu terjadi seiring kita mengenal kebutuhan dunia luar dan potensi yang kita miliki untuk mewujudkannya.

Cita-cita besar itu akan terwujud di waktu yang paling sempurna.

Leave a comment