News

CERITA CITA-CITA ANAK NUSANTARA

Bersama: Kak Afrita Ida Utami

Ada satu titik di mana kita bertemu pada keadaan kita merasa kosong, merasa hampa atas apa yang telah dikerjakan, mulai menanyakan apa yang harus dicari lagi? Padahal kita telah melakukan berbagai hal. Itulah yang dirasakan Afrita ketika memutuskan untuk menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar Angkatan XVIII penempatan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selalatan. Perempuan kelahiran 1993 itu menuturkan “pada saat inilah rasa syukur harus ditingkatkan, untuk melihat kehidupan orang lain di lingkungan yang berbeda karena itu sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan terkabulkan”.

Hidup memang selalu penuh dengan proses pencarian jati diri. Butuh proses panjang menjadikan kita ingin seperti apa. Tetapi tidak hanya berfokus pada hasil karena sesuatu yang kita hasilkan belum tentu sama dengan ekspektasi kita. Seperti halnya cita-cita kita yang selalu berubah ketika dibenturkan dengan kenyataan dan keadaan. “Tetapi saya tidak takut bercita-cita, setinggi apa pun itu targetkan saja, ibarat capaian langit ke tujuh, jika jatuh maka tidak akan jatuh terlalu jauh”. Tutur Afrita.

Lebih jauh Afrita menuturkan bahwa cita-cita tidak harus berbentuk profesi. Cita-cita juga bisa menjadi salah satu standar apakah kita sudah sukses atau belum? Jika itu merupakan standar kita berarti itu hal yang harus kita targetkan. Sedangkan bentuk cita-cita itu sendiri bisa jadi berbeda tergantung pada pola pikir kita, lingkungan, dan apa yang kita dapat untuk membentuk jati diri kita.

Kondisi pendidikan sekolah dasar di Hulu Sungai Selatan cukup memprihatinkan, dengan jumlah keseluruhan 54 orang siswa dari kelas satu sampai kelas enam. Bangunan sekolah antara lantai kelas dan lapangan struktur bangunanya  melandai dan ketika musim hujan bangunan sekolah akan tergenang. Tetapi tidak menyusutkan anak-anak di sana untuk tetap sekolah. Dorongan dari orangtua dan guru di sana sangat berantusias untuk anaknya tetap sekolah.

Hampir setiap hari anak-anak di sana ditanya soal cita-cita baik dalam kelas mau pun di luar kelas. Dalam berbagai kesempatan, Afrita selalu menanyakan terkait cita-cita anak-anak di sana dan memberikan motivasi kepada mereka. Apa yang sudah didapat kemudian disampaikan kepada orangtua sehingga orangtua dapat mengetahui potensi anak harapanya orangtua dapat menyesuaikan dengan keinginanya. Hal ini dilakuakan Afrita untuk membangun hubungan baik anatara guru dan orangtua dalam membicarakan masa depan anak. Afrita juga mencoba memetakan kekhawatiran-kekhawatiran para orangtua dan mencoba memberikan saran terbaiknya.

Biasanya kegiatan bercerita cita-cita dilakukan dengan membuka cerita tentang keinginan mereka di masa depan kemudian difasilitasi dengan bermain peran, memerankan berbagai macam profesi dan menjadi orang yang mereka inginkan. Semua anak-anak di sana sangat berantusias seolah mereka menjadi versi terbaiknya mereka.

Rupanya, anak-anak Hulu Sungai Selatan memiliki cerita cita-cita tersendiri. Mereka bercita-cita dari apa yang mereka lihat sehari-hari, seperti nelayan, kepala lurah, dan pemadam kebakaran. Cita-cita mereka masih polos dan belum ada yang bercita-cita untuk menjadi profesi kekinian karena mereka belum terpapar oleh dunia luar. Melihat apa yang mereka suka, itulah yang mereka cita-citakan.

“Saya mencoba memberikan pandangan baru bahwa mereka tidak harus menjadi apa yang mereka kagumi. Misalkan mereka bisa menjadi apa yang mereka harapkan dan mengarahkan mereka untuk menggali potensinya” turur Afrita.  Tidak berbeda dengan cita-cita pada anak umumnya, cita-cita mereka juga dipengaruhi oleh keinginan orangtua.

“Ada cita-cita anak yang unik, dia ingin ke luar angkasa karena penasaran dengan bulan” kata Afrita. Tetapi Afrita coba mengarahkan, ketika ia ingin menjelajah ruang angkasa maka harus belajar dan keluar dari daerah untuk bertemu dengan banyak orang. Untuk menumbuhkan semangat bercita-cita, Afrita mengajak anak-anak Hulu Sungai Selatan untuk menggambarkan cita-cita mereka. Misalkan, jika ingin menjadi astronot apa yang mereka tahu tentang astronot tersebut digambarkan dan tidak lupa Afrita juga memberikan gambaran seorang astronot itu seperti apa.

“Uniknya cerita cita-cita anak di sana karena mereka bercita-cita dari dalam hati. Ketika mereka menggambarkan cita-citanya mereka seperti benar-benar merasakan bahwa itu mereka hingga membuat gambar versi terbaiknya mereka. Ini menjadi salah satu cara mereka dalam memotivasi diri mereka sendiri” ujar Afrita.

Afrita juga berpesan, untuk jangan takut membuat cita-cita setinggi apapun, lantangkan saja. Yakin dan percayalah cita-cita itu akan tercapai, yang terpenting semangat, focus, dan pantang menyerah. Tidak hanya itu, Afrita juga memberikan tips untuk guru dalam memotivasi cita-cita peserta didiknya. “Mulailah menggali potensi anak dengan mendukung mereka menggapai cita-cita melalui hobinya. Tidak masalah cita-citanya diluar dari nalar karena itu yang mereka inginkan dari hati” papar Afrita.

Leave a comment