News

APA CITA-CITAMU?

Kata cita-cita bukanlah kata asing bagi kita. Bahkan kita telah mendengar kata cita-cita sejak dari balita baik dari orangtua atau keluarga. Bahkan saat memasuki PAUD/TK kalimat “Apa Cita-citamu?” seperti kalimat wajib yang dilontarkan guru kepada peserta didiknya. Selalu ada banyak pilihan jawaban untuk pertanyaan ini, tidak konsisten bahkan cenderung berubah-ubah. Mereka menanyakan hal tersebut bukan tanpa alasan, karena sebelumnya mereka juga pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. Hingga pertanyaan ini berlanjut pada generasi ke generasi. Ketika memasuki usia SD-SMP-SMA kita masih bertemu dengan kalimat “Apa Cita-citamu?”. Bahkan memasuki pergantian usia dan masa remaja kita semakin gamang dalam menyebutkan cita-cita. Ingin menjadi apa sebenarnya diri kita? Hal ini banyak membawa gejolak pada diri seorang remaja. Kita tentu tidak ingin meneruskan kesalahpahaman ini pada peserta didik dan anak kita selanjutnya bukan?

Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa berbicara tentang cita-cita artinya membicarakan masa depan. Untuk menentukan akan menjadi apa di masa depan, tentu akan ada proses yang harus dilalui oleh setiap individu. Proses inilah yang coba kita tanamkan kepada peserta didik dan anak kita di setiap masa perkembanganya. Agar mereka memiliki pondasi yang cukup kuat dalam memilih cita-cita dan menentukan tujuan hidupnya.

Sebelum masuk pada tahap itu, kita harus mengenal dulu apa itu cita-cita? Sejauh manakah kita memahami tentang cita-cita?

  1. Cita-cita merupakan tujuan hidup

Berbicara tentang cita-cita, artinya berbicara tentang tujuan hidup kita. Namanya orang hidup sudah tentu memiliki impian dan harapan yang ingin dicapai. Kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani di masa depan adalah representasi dari kerja keras dan usaha kita saat ini.

  • Berhubungan dengan minat, bakat, dan potensi

Menekuni passion akan memudahkan kita dalam menjalaninya karena itu sesuatu yang kita sukai. Andai ada tekanan sekali pun kita pasti mampu melaluinya. Seberapa kita mengenali passion yang dimiliki akan mempermudah untuk menentukan tujuan hidup kita.

  • Adanya prestasi yang ingin diraih

Setiap kesempatan yang ada adalah peluang bagi kita karena keberhasilan tidak didapatkan secara kebetulan melainkan karena adanya usaha dan kerja keras.

  • Target yang ingin dicapai jelas

Untuk melangkah jauh ke depan, kita membutuhkan target sebagai motivasi untuk meraihnya. Ketika kita memiliki cita-cita, artinya kita telah membidik target untuk mengenai pas pada sasaran. Ibarat anak panah yang meluncur, meskipun melenceng ia akan menancap setidaknya tidak jauh dari concentric points.

  • Terwujud dari jiwa pantang menyerah

Pepatah mengatakan, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasilnya. Begitu pula dengan cita-cita, hanya akan menjadi cerita ketika kita terlalu takut pada kegagalan.

            Setelah kita mengetahui tentang cita-cita, maka selanjutnya adalah bagaimana kita memperkenalkan cita-cita itu kepada peserta didik dan anak kita. Ada tiga proses dalam mendampingi anak untuk bercita-cita, yaitu:

  1. Menemukenali potensi anak

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa, cita-cita biasanya berkaitan dengan minat, bakat, dan potensi anak. Tugas kita adalah menggali informasi tersebut. Kita dapat mengamati keseharianya, melihat  kecenderungan minatnya, atau melakukan tes potensi kecerdasan. Sehingga kita dapat mengarahkan cita-cita mereka sesuai dengan potensi, minat, dan bakatnya.

  • Menumbuhkan cita-cita anak

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kesadaran bercita-cita pada anak. Jika tahap usia SD kita dapat memberikan cerita tentang tokoh menarik, mendongeng yang mengandung nilai, mengenalkan berbagai macam profesi, bertukar peran, dll. Jika tahap usia SMP-SMA, kita dapat mendatangkan tokoh inspiratif ke dalam kelas, membuat diskusi kelompok cita-cita, atau menceritakan kisah perjalanan inspiratif seseorang dll.

  • Mengksplorasi cita-cita anak

Mengeksplorasi cita-cita anak akan berbeda cara setiap tahapan usianya. Usia SD dapat dilakukan dengan menerapkan SMS (Sepuluh Menit Sepekan) Bercita-cita di dalam kelas. Ada tiga tahapan yaitu:

  1. Menumbuhkan kesadaran anak bercita-cita, menstimulus dengan bercerita atau mendongeng inspiratif dan kegiatan positif lainya.
  2. Menggambar cita-cita, setelah anak mendapatkan insight dari cerita yang ia dapat, minta lah anak untuk menggambarkan cita-citanya di buku gambar khusus cita-cita. Buku gambar ini nantinya akan menjadi profil cita-citanya nanti.
  3. Menceritakan cita-cita, berilah anak kesempatan untuk menceritakan gambar cita-citanya secara bergantian di depan teman-temanya.
  4. Terus dilakukan secara konsisten dan bergantian, jika sudah mendapat giliran semua, kembali pada siklus awal sampai mereka lulus sekolah.

Untuk mengeksplorasi cita-cita anak usia SMP-SMA, kita dapat memanfaatkan peran guru BK, melalui teknik coaching, peran OSIS, dan pembentukan kelompok yang memiliki kesamaan cita-cita. Sehingga mereka memiliki forum diksusi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan cita-cita

Kedepanya, ketika kita menanyakan “Apa Cita-citamu?” kepada peserta didik dan anak kita, tidak lagi sebagai pertanyaan formalitas saja. Tetapi kita juga mengambil peran dalam menumbuhkan dan mendampingi cita-cita mereka sejak dini.

Leave a comment